Jika diamati pada tahun 1998 saat ekonomi Indonesia kacau balau, mahasiswa Indonesia mulai berubah menjadi manusia-manusia kritis. Lihat saja pada masa itu, TV, radio, media massa dimana saja selalu berkomentar tentang kacaunya pemerintahan. Para pemuda dengan lantangnya mengkritisi para wakilnya yang mereka anggap tidak menjalankan tugas sesuai harapan mereka. Namun, setelah kabinet turun kaum pemuda masih saja mengkritisi kinerja pemerintah. Mereka selalu mencari kelemahan dari kaum tua tanpa bercermin pada kepribadian mereka sendiri terlebih dahulu. Kepribadian yang sudah menjamur adalah tawuran antar remaja.
Tawuran telah menjadi budaya bagi sebagian besar kaum pelajar Indonesia. Mereka lakukan itu atas nama prestise, kebanggaan almamater setiap sekolahnya masing-masing. Apakah itu adalah cara untuk membangun kebanggaan sekolah? Apakah dengan itu nama sekolah mereka akan harum mewangi bak mawar di taman? Apakah orang tua mereka akan bangga dengan anak yang menang saat tawuran?
Terjawab jelas bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut ialah jawaban yang tertuju pada jawaban negatif dari dampak tawuran. Tawuran tidak hanya berpengaruh buruk pada diri mereka sendiri, tidak hanya luka fisik tetapi juga akan memperkeruh nama baik mereka serta nama baik orang-orang sekelilingnya pun akan menerima getahnya. Terutama orang tua. Orang yang mulai memelihara kita dengan kasih sayang sejak kita dilahirkan hingga besar seperti sekarang.Orang tua adalah orang yang pertama menimang kita setelah kita lahir di dunia ini dan memiliki banyak harapan untuk masa depan kita yang cerah. Belas kasih mereka terhadap kita akan luntur bila tahu anaknya terlibat dalam suatu tindakan yang tidak diharapkan. Tidak hanya itu sekolahpun juga akan terjerat dalam dampak negatif dari tawuran dengan menginjakkan sebuah jejak hitam pada imej sekolah di masyarakat.
Untuk mengatasi maraknya kasus pelencengan dari sistem pendidikan yang berubah menjadi ajang kemampuan fisik, alangkah baiknya sebagai bunga bangsa sudah sepatutnya kita mendalami makna sebenarnya dari kata belajar bagi dunia pendidikan. Setiap warga negara memiliki peran penting dalam menjadikan negaranya berkapasitansi tinggi dan berpikiran maju. Semua itu dimulai dengan jasa guru yang diterapkan kepada muridnya untuk mengukir sejarah baru prestasi suatu Negara dan menciptakan masa depan cerah berkedudukan tinggi di mata dunia. Dengan bimbingan, semangat, motivasi, usaha dan dukungan dapat dipastikan kesuksesan selalu mengejar. Jadilah pengukir sejarah baru bagi peradaban negara dengan prestasi dan hidup tanpa tawuran. Prestasi Yes, Tawuran No.

Halah, tawuran mah hanya berlaku bagi para pengecut. Kalau berani, duel satu lawan satu, itu baru jantan, hehe ..
BalasHapusFenomena tawuran memang sudah menyatu, dan dikenal lama dalam sejarah ( haayyaah ..! ) manusia.
Pada masa lalu, tawuran merupakan salah satu mekanisme pembelaan diri terhadap kelompok atau daerah kekuasaan mereka, dari serangan musuh yg mencoba mengusik mereka. Jadi alasannya masih bisa diterima, mengingat zaman dulu orang masih berpola pikir jadul, belum ngerti yang namanya musyawarah .. hhe ...
Jadi, istilah yang cocok untuk peristiwa saling tendang gebuk tonjok cubit jambak jewer bacok penggal pada masa itu, ya perang antar suku, meskipun pelaksanaannya (halah pelaksanaannya ..!) mirip dengan tawuran.
Nah, kalau jaman sekarang, tawuran sudah semakin parah dan menjurus kepada NEO TRIBALISME, yakni faham baru yg menjurus ke perilaku suku-suku primitif. Untuk faham ini, nggak perlu ada gara-garanya demi terjadinya sebuah tawuran. Cukup dengan sekedar iseng karena ni tangan dah gatel pengen nonjok orang, karena ada tetangga kampung sebelah yg lewat di depan rumah kita dengan tampang yang asem, dll, pokoknya nggan harus ada alasan lah, yang penting berantem. Dan ketika mrk terlibat dlm perkelahian, mrk pun serasa masuk dlm alam ekstasi yang memabukkan dan membuat mereka serasa jadi superhero. dodol, bukan ??
Pengen tau mengapa ini bisa terjadi ?
ini jawabannya : KEMISKINAN, KEBODOHAN, KETERBELAKANGAN !
terima kasih Bu atas informasi sejarahnya....sebenarnya sih sudah ada yang mempraktikan one by one sebagai pengganti tawuran, tapi sama saja mencederai kedua pihak yang bertikai...intinya semua buruk...
BalasHapusTawuran sebenarnya bukan hanya monopoli pelajar, tapi juga orang dewasa. Tawuran antar mahasiswa, antar kampung, antar geng, antar suporter sudah begitu sering menghiasi media cetak maupun elektronik. Sifatnya sudah masif dan menjalar kemana-mana, salah satunya karena peran media yang me'lebay-lebay'kan, karena itulah dagangan mereka.
BalasHapusJika sebabnya karena kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan semata saya kurang setuju bu, sebab banyak mahasiswa dan anggota dewan yang merupakan kaum terdidik dan secara ekonomi relatif mampu juga hobi jotos-jotosan. Mereka bukanlah orang miskin, bodoh, dan terbelakang.
Bisa jadi memang ada yang salah dengan pendidikan kita, pendidikan yang hanya mengasah kecerdasan otak tanpa kecerdasan emosional, pendidikan yang tidak membentuk karakter bangsa yang militan sebagaimana yang telah dimiliki oleh para founding fathers negeri ini. Begitu kira-kira pendapat para pakar pendidikan.
Atau mari coba berpikir positif. Adanya tawuran antar pelajar jangan2 karena kurangnya saluran kreatifitas anak. Adrenalin yg berlebih tanpa ada sarana dan prasarana yang menampung membuat mereka melampiaskan secara liar. Kebut-kebutan di jalan bisa jadi karena sewa sirkuit yang mahal. Adu jotos karena berkurangnya lahan kosong untuk olahraga masal plus tidak adanya kompetisi yang memadai yang menampung bakat, minat, dan kreatifitas mereka. Sehingga lahirlah ritual tawuran itu, murah meriah dan benar-benar memacu adrenalin :), sarana apresiasi dan unjuk diri di tengah kelompoknya. Inilah aku yang jantan, yang berani, yang gagah perkasa, fenomenal, aktual, dan terpercaya (lebay dah... :).
maksud saya : miskin, bodoh dan terbelakang secara IMAN, yang kadang tidak terkait langsung dengan tingkat pendidikan. Mereka memang sekolah, namun tidak terdidik. Kitu tah ...
BalasHapus